Membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca jahr.
Tentang Ma'mum wajib membaca Al-Fatihah atau tidak, apabila Imam membaca dengan jahr, disini ulama' berbeda pendapat. Masing-masing mempunyai alasan yang secara ringkas sebagai berikut :
1. Golongan pertama, berpendapat bahwa Makmum wajib membaca Al-Fatihah di belakang imam, sekalipun imamnya membaca jahr dengan alasan sebagai berikut :
عَنْ عُبَادَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص الصُّبْحَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ اْلقِرَاءَةُ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنّى اَرَاكُمْ تَقْرَءُوْنَ وَرَاءَ اِمَامِكُمْ؟ قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِيْ وَ اللهِ! قَالَ: لاَ تَفْعَلُوْا اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ فَاِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْبِهَا. ابو داود و الترمذى، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah shalat Shubuh, tiba-tiba bacaan beliau menjadi berat (karena terganggu). Maka setelah selesai, Rasulullah SAW bersabda, "Saya merasa bahwa kalian membaca di belakang Imam kalian ?". 'Ubadah berkata : Kami menjawab, "Demi Allah, betul ! Ya Rasulullah". Beliau bersabda, "Janganlah kalian berbuat demikian, kecuali Ummul Qur'an (Al-Fatihah). Karena sesungguhnya tidak sah shalat orang yang tidak membacanya". [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]
عَنْ عُبَادَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَقْرَأَنَّ اَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ اِذَا جَهَرْتُ بِاْلقِرَاءَةِ اِلاَّ بِاُمّ اْلقُرْآنِ. الدارقطنى و قال رجاله كلهم ثقات، فى نيل الاوطار
Dari 'Ubadah ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Janganlah seseorang diantara kalian membaca sesuatu dari Al-Qur'an apabila aku membaca dengan jahr, kecuali Ummul Qur'an". [HR. Daruquthni, ia berkata, "Sanadnya semuanya dapat dipercaya", dalam Nailul Authar juz 2, hal. 243]
2. Golongan kedua berpendapat, bahwa Makmum wajib mendengarkan bacaan Imam, berdasar firman Allah dan hadits-hadits Nabi SAW.
Firman Allah SWT :
وَ اِذَا قُرِئَ اْلقُرْانُ فَاسْتَمِعُوْا لَه وَ اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. الاعراف:204
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an hendaklah kamu mendengarkannya serta diam (memperhatikan), supaya kamu diberi rahmat. [Al-A'raf : 204]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّمَا جُعِلَ اْلاِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ. فَاِذَا كَبَّرَ فَكَبّرُوْا وَ اِذَا قَرَأَ فَاَنْصِتُوْا. الخمسة الا الترمذى و قال مسلم: هو صحيح، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Hanyasanya imam itu dijadikan untuk diturut, jika dia bertakbir maka bertakbirlah dan jika dia membaca (Al-Qur'an) maka diam dan perhatikanlah". [HR. Khamsah kecuali Tirmidzi, Muslim berkata, "Hadits itu Shahih", Nailul Authar Juz II hal 240]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص انْصَرَفَ مِنْ صَلاَةٍ جَهَرَ فِيْهَا بِاْلقِرَاءَةِ. فَقَالَ: هَلْ قَرَأَ مَعِى اَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَاِنّى اَقُوْلُ مَالِى اُنَازَعُ اْلقُرْآنَ؟ قَالَ: فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ اْلقِرَاءَةِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِيْمَا يَجْهَرُ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص بِاْلقِرَاءَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ بِاْلقِرَاءَةِ حِيْنَ سَمِعُوْا ذلِكَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. ابو داود و النسائى و الترمذى و قال: حديث حسن، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya pernah Rasulullah SAW setelah selesai dari satu shalat yang beliau baca dengan jahr (nyaring), lalu beliau bersabda, "Apakah tadi diantara kalian ada yang membaca bersama-sama aku ?". Maka ada seorang laki-laki menjawab, "Saya, ya Rasulullah". Rasulullah SAW bersabda, "Aku mau bertanya, mengapa aku dilawan dalam membaca Al-Qur'an ?". Abu Hurairah berkata, "Sesudah itu orang-orang berhenti dari membaca bersama Rasulullah SAW diwaktu shalat yang Rasulullah membacanya dengan jahr (nyaring) setelah mereka mendengar yang demikian itu dari Rasulullah SAW".[HR. Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan ia berkata, "Ini hadits Hasan". Dalam Nailul Authar juz 2, hal. 242]
3. Golongan ketiga berpendapat, bahwa Makmum tidak boleh membaca apapun termasuk Al-Fatihah dibelakang seorang Imam, baik Imamnya membaca jahr maupun sir; karena menurut pendapat mereka bacaan Imam adalah bacaan Makmumnya pula , maka dengan Imam membaca itu sudah mencakup bagi seluruh Makmumnya. Dengan alasan sebagai berikut :
اِنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ كَانَ لَهُ اِمَامٌ فَقِرَاءَةُ اْلاِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ. احمد و الدارقطنى عن عبد الله بن شداد
Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa (shalat) bersama Imam maka bacaan Imam itu jadi bacaan baginya". [HR. Ahmad dan Daruquthni dari Abdullah bin Syaddad]
كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ وَرَاءَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَجَعَلَ رَجُلٌ يُوْمِئُ اِلَيْهِ اَنْ لاَ يَقْرَأَ فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ ص قَالَ لَهُ الرَّجُلُ: مَا لَكَ تَقْرَأُ خَلْفَ اْلاِمَامِ؟ فَقَالَ: مَالَكَ تَنْهَانِى اَنْ اَقْرَأَ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا كَانَ لَكَ اِمَامٌ فَاِنَّ قِرَاءَتَهُ لَكَ قِرَاءَةٌ. الخلال عن عبد الله بن شداد
Seorang laki-laki pernah membaca di belakang Rasulullah SAW maka seorang laki-laki (lain) memberi isyarat kepadanya supaya dia tidak membaca. (Orang itu tidak menurut), dan tetap membaca. Setelah Rasulullah SAW selesai (salam), maka laki-laki itu berkata kepada orang tersebut, "Mengapa engkau membaca di belakang Imam ?". Ia menjawab, "Mengapa engkau melarang aku membaca ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apabila engkau mengikuti imam, maka sesungguhnya bacaan Imam itu menjadi bacaan bagimu". [HR. Al-Khallal dari Abdullah bin Syaddad]
Keterangan :
Pengarang Al-Muntaqa berkata, "Hadits riwayat Ibnu Syaddad (yang dijadikan hujjah golongan ketiga) itu telah diriwayatkan juga dengan tidak putus sanadnya dari beberapa jalan yang semuanya lemah. 
Demikianlah tentang membaca Al-Fatihah di belakang Imam yang membaca dengan jahr.
Adapun kami condong kepada pendapat golongan kedua, yaitu : Bahwa seorang Makmum dibelakang Imam yang membaca dengan jahr (nyaring) maka ia wajib diam dan memperhatikan bacaan imam tersebut, sebagaimana keterangan di atas.
Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tidak sah shalat kecuali dengan membaca Al-Fatihah, itu maksudnya ialah :
1.   Bagi Imam, baik ia membaca jahr atau sir.
2.  Bagi Makmum yang Imamnya membaca dengan sir atau meskipun jahr tetapi tidak mendengar (misalnya sebab tempatnya terlalu jauh).
3.   Bagi orang yang shalat Munfarid (sendirian).
      Wallahu'alam


Posting Komentar

 
Top