Yang termasuk hadats besar :
a. bersetubuh, baik mengeluarkan mani maupun tidak.
b. mengeluarkan mani sebab mimpi dan lain-lain.
c. mengeluarkan darah haidl.
d. mengeluarkan darah nifas.
Keempat macam perkara ini mewajibkan mandi junub/ tayammum untuk bersuci bila hendak shalat.
Yang termasuk hadats kecil :
a. mengeluarkan kotoran (tinja).
b. mengeluarkan kencing.
c. mengeluarkan madzi (air sex).
d. mengeluarkan angin (kentut), baik bersuara maupun tidak.
Keraguan berhadats tidak membathalkan wudlu 


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَأْتِى اَحَدَكُمُ الشَّيطَانُ فِى صَلاَتِهِ فَيَنْفُخُ فِى مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ اِلَيْهِ اَنَّهُ اَحْدَثُ وَ لَمْ يُحْدِثْ. فَاِذَا وَجَدَ ذلِكَ فَلاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا اَوْ يَجِدَ رِيْحًا. البزار
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Syithan itu datang kepada seseorang yang sedang shalat, lalu ia hembus di pantat orang itu, maka orang itupun merasa berhadats, padahal sebenarnya tidak berhadats. Karena itu apabila seseorang berperasaan demikian, janganlah ia berpaling dari shalatnya, sehingga ia mendengar suara kentutunya atau mencium baunya”. [HR. Al-Bazzar]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا وَجَدَ اَحَدُكُمْ فِى بَطْنِهِ شَيْئًا فَاَشْكَلَ عَلَيْهِ اَ خَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ اَوْ لاَ فَلاَ يَخْرُجْ مِنَ اْلمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا اَوْ يَجِدَ رِيْحًا. مسلم و الترمذى
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Aabila salah seorang diantara kamu merasakan ada sesuatu di perutnya, apakah telah keluar kentut dari padanya atau tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid (untuk berwudlu) sehingga ia mendengar suara (kentut) atau mencium baunya”. [HR. Muslim dan Tirmidzi]
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اَنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِى اَحَدَكُمْ وَ هُوَ فِى الصَّلاَةِ فَيَأْخُذُ شَعْرَةً مِنْ دُبُرِهِ فَيَمُدُّهَا فَيَرَى اَنَّهُ قَدْ اَحْدَثَ فَلاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا اَوْ رِيْحًا. ابو داود
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata, “Syaithan datang kepada seseorang diantara kamu yang sedang shalat, lalu memegang sehelai rambut dari dubur orang yang sedang shalat itu dan menariknya. Karena itu terasalah oleh orang itu, bahwa ia telah berhadats. Maka janganlah ia berpaling dari shalatnya, sehingga mendengar suarau kentutu atau mencium baunya”. [HR. Abu Dawud]
Bersentuhan pria - wanita tidak membathalkan wudlu
Sementara ulama ada yang berpendapat bahwa bila seorang laki-laki bersentuhan kulit dengan wanita yang bukan mahramnya, maka bathallah wudlunya.
Mereka beralasan dengan bunyi ayat 43 surat An-Nisaa’ dan Al-Maidah ayat 6 sebagai berikut :
... وَ اِنْ كُنْتُمْ مَرْضى اَوْ عَلى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مّنْكُمْ مّنَ اْلغَآئِطِ اَوْ لـمَسْتُمُ النّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا... المائدة:6
... dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah. [QS. An-Nisaa’ : 43, dan Al-Maaidah 6]
Mereka mengecualikan wanita-wanita yang termasuk mahram (wanita-wanita yang diharamkan untuk dikawini) dari keumuman lafadh لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ (kalian menyentuh wanita) dlm ayat diatas.
Jadi menurut mereka bila sentuhan itu terjadi antara seorang laki-laki dengan seorang wanita yang termasuk mahram laki-laki tersebut, yang demikian itu tidaklah membathalkan wudlu keduanya. Sedangkan yang termasuk mahram sebagaimana yang tertera dalam ayat 22 dan 23 surat An-Nisaa’.
وَ لاَ تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ ابَآؤُكُمْ مّنَ النّسَآءِ اِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ، اِنَّه كَانَ فَاحِشَةً وَّ مَقْتًا، وَ سَآءَ سَبِيْلاً. حُرّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهَاتُكُمْ وَ بَنَاتُكُمْ وَ اَخَوَاتُكُمْ وَ عَمَّاتُكُمْ وَ خَالَتُكُمْ وَ بَنتُ اْلاَخِ وَ بَنتُ اْلاُخْتِ وَ اُمَّهَاتُكُمُ الّتِى اَرْضَعْنَكُمْ وَ اَخَوَاتُكُمْ مّنَ الرَّضَاعَةِ وَ اُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَ رَبَآئِبُكُمُ الّتِى فِيْ حُجُوْرِكُمْ مّنَ النّسَآئِكُمْ الّتِى دَخَلْتُمْ بِهِنَّ، فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ. وَ حَلآئِلُ اَبْنَآئِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلاَبِكُمْ. وَ اَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ اْلاُخْتَيْنِ اِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ، اِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا. النساء:22-23
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudar abapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-aak istrimu yang dalam pemepiharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS.An-Nisaa’ : 22-23]
Bantahan dan penjelasan
a. Penetapan diatas bertentangan dengan riwayat-riwayat yang sah dari Nabi SAW sebagai penjelas utama syariat Allah sebagaimana di bawah ini.
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: اَنَّ النَّبِيَّ ص يُقَبِّلُ بَعْضَ اَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّى وَ لاَ يَتَوَضَّأَ. احمد
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW pernah mencium salah seorang dari istrinya, kemudian terus shalat dengan tidak berwudlu lagi”. [HR. Ahmad]
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: اِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيُصَلِّى وَ اِنِّى لَمُعْتَرِضَةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ اِعْتِرَاضَ اْلجَنَازَةِ حَتَّى اِذَا اَرَادَ اَنْ يُوْتِرَ مَسَّنِى بِرِجْلِهِ. النسائى
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Pada suatu waktu Rasulullah SAW sedang shalat, sedang aku tidur di hadapannya seperti jenazah, sehingga apabila Rasulullah SAW hendak mengerjakan witir, beliau menyentuhku dengan kakinya”. [HSR. Nasai]
b. Bila dengan dasar ayat diatas menyentuh wanita itu membathalkan wudlu, maka harus ditetapkan pula menyentuh itu, kakak perempuan, bibi dan lain-lain itupun membathalkan wudlu. Karena lafadh النِّسَاءَ(wanita) dalam ayat 43 surat An-Nisaa’ dan ayat 6 surat Al-Maaidah itu umum, yakni siapasaja asal dia wanita, baik yang termasuk mahram seperti ibu,kakak perempuan, bibi dan lain-lain, maupun yang bukan mahram, tercakup dalam keumuman lafadh tersebut. Dan tidak ada nash yang shahih dan tegas dari agama, yang mengecualikan wanita-wanita yang mahram dari lafadh umum لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ (kalian menyentuh wanita) pada ayat dimuka. Sedang jika ayat 22 dan 23 surat An-Nisaa’ itu dipakai dasar pengecualian wanita-wanita itu, maka hal itu tidak tepat, karena satu sama lain tidak ada munasabah (sangkut paut)nya sama sekali dan bidang hukum. Sebab ayat 43 surat AN-Nisaa’ dan ayat 6 surat Al-Maaidah itu adalah masalah shalat, tayammum, berhadats dan lain-lain yang termasuk bab Thaharah dan Shalat, sedang yang diterangkan dalam ayat 22 dan 23 surat An-Nisaa’ itu adalah masalah wanita-wanita yang diharamkan untuk dikawini, yang biasa disebut mahram, jadi termasuk bab Nikah. Maka kedua masalah dalam ayat-ayat diatas masing-masing berdiri sendiri pembahasannya, dan tidak dapat dicampur-adukkan satu dengan yang lain.
c. Jika diperhatikan dengan seksama, maka akan tampak jelas bahwa yang dimaksud oleh لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ  (kalian menyentuh wanita) itu adalah “kalian bersetubuh dengan wanita (istri-istrimu)”. Karena ayat-ayat itu menjelaskan kebolehan bertayammum sebagai pengganti wudlu dan mandi besar bagi orang yang hendak shalat karena sebab-sebab tertentu. Dan sebagaimana telah diterangkan, bahwa wudlu untuk shalat adalah bagi orang yang terkena hadats kecil sedang mandi besar adalah untuk yang yang terkena hadats besar. Berhadats kecil dalam ayat itu diisyaratkan oleh Allah dengan kalimat جَآءَ اَحَدٌ مّنْكُمْ مّنَ اْلغَائِطِ  (seseorang diantara kamu datang dari tempat buang air), maka لَمَسْتُمُ النّسَآءَ (kalian menyentuh perempuan) adalah isyarat Allah bagi hadats besar, yang salah satu sebabnya adalah bersetubuh.
Jadi tidak dapat dimaknakan sekedar menyentuh, tetapi yang dimaksud adalah menyetubuhi wanita.
1. Hal-hal yang disunnatkan kita berwudlu
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَوْ لاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى َلاَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوْءٍ وَ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ بِسِوَاكٍ. احمد باسناد صحيح، فى نيل الاوطار 1:245
Dari Abu Hurairar dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sekiranya tidak akan memberatkan ummatku, tentu aku perintahkan kepada mereka supaya berwudlu untuk tiap-tiap shalat dan setiap berwudlu supaya bersiwak (menggosok gigi)”. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih, dalam Nailul Authar 1 : 246]
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَتَوَضَّأُ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ. قِيْلَ لَهُ: فَاَنْتُمْ كَيْفَ كُنْتُمْ تَصْنَعُوْنَ؟ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّى الصَّلَوَاتِ بِوُضُوْءٍ وَاحِدٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ. الجماعة الا مسلما
Dari Anas, ia berkata, “Biasanya Rasulullah SAW berwudlu pada tiap-tiap akan shalat”. Lalu ada orang bertanya keapda Anas, “Sedangkan kalian, bagaimana kalian berbuat ?”. Anas menjawab, “Kami biasa shalat beberapa shalat dengan satu kali wudlu, selama kami belum bathal”. [HR. Jama’ah, kecuali Muslim, dalam Nailul Authar 1 : 248]
2. Berwudlu setelah makan makanan yang disentuh api
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ ص: تَوَضَّئُوْا مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ. احمد و مسلم و النسائى
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Berwudlulah kamu karena makan makanan yang disentuh api”. [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai]
عَنْ مَيْمُوْنَةَ رض قَالَتْ: اَكَلَ النَّبِيُّ ص مِنْ كَتِفِ شَاةٍ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ. متفق عليه
Dari Maimunah RA, ia berkata : Nabi SAW pernah makan daging sampil depan kambing, sesudah itu beliaupun bangun lalu shalat dengan tidak berwudlu lagi”. [HR. Bukhari dan Muslim]
Keterangan :
Pada hadits pertama, Nabi SAW memerintahkan kepada ummatnya supaya berwudlu setelah makan makanan yang disentuh api. Sedang pada riwayat kedua, Maimunah menjelaskan bahwa Nabi pernah makan sampil depan kambing (yang tentunya dimasak diatas api), setelah itu beliau shalat tanpa berwudlu lagi.
Dari riwayat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa perintah supaya berwudlu sehabis makan makanan yang tersentuh api pada hadits pertama itu hukumnya adalah sunnah.
3. Sunnah berwudlu sebelum tidur
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلاَيْمَنِ وَ قُلْ: اَللّهُمَّ اَسْلَمْتُ نَفْسِى اِلَيْكَ وَ فَوَضْتُ اَمْرِى اِلَيْكَ وَ اَلْجَأْتُ ظُهْرِى اِلَيْكَ رَهْبَةً وَ رَغْبَةً اِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَ لاَ مَنْجَى مِنْكَ اِلاَّ اِلَيْكَ امَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى اَنْزَلْتَ وَ بِنَبِيِّكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. فَاِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى اْلفِطْرَةِ. وَ اجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ. فَقُلْتُ: اَسْتَذْكِرُهُنَّ وَ بِرَسُوْلِكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. قَالَ: لاَ، وَ نَبِيِّكَ الَّذِى اَرْسَلْتَ. البخارى 5:146
Dari Baraa’ bin ‘Azib RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk shalat. Kemudian berbaringlah atas lambung kananmu dan bacalah [Allaahumma aslamtu nafsii ilaika wa fawwadltu amrii ilaika wa alja’tu dhahrii ilaika rahbatan wa raghbatan ilaika laa malja-a wa laa manjaa minka illaa ilaika. Aamantu bi kitaabika alladzii anzalta wa bi Nabiyyika alladzii arsalta] (Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu, aku pulangkan segala urusanku kepada-Mu dan aku melindungkan diriku kepada-Mu, karena takutku dan cintaku kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan melepaskan diri dari-Mu melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus), maka jika kamu mati, niscaya kamu mati di dalam fithrah (kesucian) dan jadikanlah doa itu sebagai akhir perkataanmu. (Baraa’ berkata) lalu aku mengulangi doa itu (supaya didengar Nabi SAW) dengan [Wa bi rasuulika alladzii arsalta]. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak begitu, tetapi [Wa bi Nabiyyika alladzii arsalta]”. [HR. Bukhari 7 : 146]
4. Orang yang berjunub, bila hendak tidur, disunnatkan mencuci kemaluannya dan berwudlu
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَرَادَ اَنْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَ تَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ. الجماعة
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Nabi SAW apabila akan tidur sedang beliau junub, beliau membasuh kemaluannya dan berwudlu sebagaimana wudlunya untuk shalat”. [HR. Jama’ah]
5. Orang-orang yang berjunub disunnatkan wudlu bila hendak mengulangi persetubuhannya
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِّ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا اَتَى اَحَدُكُمْ اَهْلَهُ ثُمَّ اَرَادَ اَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ. الجماعة الا البخارى
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu telah mengumpuli istrinya kemudian hendak mengulanginya hendaklah ia berwudlu”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari]
6. Bila hendak makan dan minum, bagi orang yang junub disunnatkan berwudlu
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رض قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص رَخَّصَ لِلْجُنُبِ اِذَا اَرَادَ اَنْ يَأْكُلَ اَوْ يَشْرَبَ اَوْ يَنَامَ اَنْ يَتَوَضَّأَ وُضُوْءَهُ لِلصَّلاَةِ. احمد و الترمذى
Dari ‘Ammar bin Yasir RA, ia berkata, “Bahwasanya Nabi SAW membolehkan bagi orang berjunub, apabila hendak makan-minum atau tidur supaya berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi]
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَرَادَ اَنْ يَأْكُلَ اَوْ يَشْرَبَ اَوْ يَنَامَ وَ هُوَ جُنُبٌ يَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ وَ يَشْرَبُ. احمد و النسائى
Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Nabi SAW apabila hendak makan-minum atau tidur sedang beliau junub, beliau membasuh kedua tangannya, sesudah itu beliau makan dan minum”. [HR. Ahmad dan Nasai]
Bacaan sesudah wudlu
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْكُمْ مِنْ اَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ اْلجَنَّةِ الثَّمَانِيَّةُ يَدْخُلُ مِنْ اَيِّهَا شَاءَ. احمد و ابو داود و الترمذى
Dari ‘Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kalian yang berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya, lalu membaca [Asyhadu allaa illaaha illaallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh] (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya), melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu manasaja yang ia kehendaki”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi]
Orang yang berhadats boleh membaca/menyentuh Al-Qur’an
قَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ اَحْيَانِهِ. مسلم
‘Aisyah RA telah berkata, “Rasulullah SAW selalu menyebut (nama) Allah di setiap waktu”. [HSR Muslim]
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: اَخْبَرَنِى اَبُوْ سُفْيَانَ اَنَّ هِرَقْلَ دَعَا بِكِتَابِ النَّبِيِّ ص فَقَرَأَهُ، فَاِذَا فِيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. يَا اَهْلَ اْلكِتَابِ تَعَالَوْا اِلى كَلِمَةٍ ... البخارى
Ibnu ‘Abbas berkata : Abu Sufyan telah memberitahukan kepada saya, bahwa Heraclius pernah meminta surat yang (dibawa) dari Nabi SAW, kemudian ia membacanya, sedang di situ tertulis “Bismillaahir rahmaanir rahiim. (Dengan nama Allah, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), hai orang-orang ahli kitab, marilah kepada agama ..... “. [HR. Bukhari]
اِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ لَمْ يَرَ بِاْلقِرَاءَةِ لِلْجُنُبِ بَأْسًا. البخارى
Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas RA tiada memandang sebagai suatu kesalahan bagi seorang yang sedang berjunub membaca Al-Qur’an. [HR. Bukhari]
اِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ يَقْرَأُ وِرْدَهُ وَ هُوَ جُنُبٌ. ابن المنذى
Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas biasa membaca wirid (sebagian dari Al-Qur’an) walaupun ia junub. [HR. Ibnu Mundzir]
قَالَ اْلحَكَمُ: اِنِّى َلاَذْبَحُ وَ اَنَا جُنُبٌ وَ قَالَ اللهُ: وَ لاَ تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ. البخارى
Hakam (salah seorang shahabat) berkata : Sesungguhnya saya pernah menyembelih (dengan membaca basmalah), padahal saya sedang junub, karena Allah berfirman, “Janganlah kalian memakan (sembelihan) yang tidak disebut nama Allah”. [HR. Bukhari]

Keterangan :
Dari hadits ‘Aisyah RA diatas dengan keumuman lafadhnya, berarti Nabi SAW selalu menyebut nama Allah, baik dalam keadaan suci maupun berhadats besar ataupun kecil.
Shahabat Ibnu ‘Abbas membolehkan orang berjunub membaca Al-Qur’an dan beliau sendiri melakukannya. Riwayat shahabat Hakam yang menyembelih dengan (enyebut) nama Allah, yaitu Bismillahyang merupakan sebagian dari ayat Al-Qur’an, padahal beliau sedang junub. Begitu pula riwayat Abu Sufyan, bahwa seorang penguasa Roma yang beragama Nashrani yang tentu saja tidak mengenal syariat mandi janabat atau wudlu bila berhadats, dia dikirimi surat oleh Nabi SAW dengan menyertakan ayat sebagai materi dakwah kepadanya.
Maka dari seluruh hadits dan riwayat tersebut, bisa diambil kesimpulan, bahwa hukum bagi seseorang yang sedang berhadats besar maupun kecil untuk membaca Al-Qur’an adalah boleh dan tidak dilarang oleh agama.

Posting Komentar

 
Top